Selasa, 18 November 2014

Semakin Digaruk Semakin Gatal

menggaruk gatal
Makin di Garuk,Makin Gatal, kenapa ?


Kadang-kadang kita sulit menahan diri untuk tidak menggaruk suatu bagian tubuh ketika terasa gatal. Sekali menggaruk, tangan rasanya tidak bisa berhenti menggaruk sambil berharap rasa gatal hilang secepatnya.
Para ahli mengatakan bahwa menggaruk sebenarnya tidak menjamin menghilangkan rasa gatal. Justru sebaliknya, hal tersebut membuat bagian yang gatal akan menjadi semakin terasa gatal.
Penelitian menunjukkan bahwa ketika menggaruk, otak akan memproduksi hormon serotonin yang membuat seseorang merasa semakin gatal. Para ilmuwan mengatakan bahwa menggaruk, mulanya bisa menyebabkan nyeri di kulit.
Peneliti senior dan direktur Pusat Studi Rasa Gatal, Universitas Washington, Dokter Zhouw-Feng Chen, mengatakan bahwa rasa nyeri yang timbul akan mengganggu rasa gatal. Sel-sel saraf pada sumsum tulang belakang akan memberikan sinyal rasa sakit atau nyeri ke otak, bukan sinyal gatal.
Menurut Chen, Apabila serotonin menyebar dari otak menuju sumsum tulang belakang, serotonin bisa bergerak dari neuron yang merasakan nyeri atau sakit ke sel-sel saraf yang mempengaruhi intensitas gatal. Ia menjelaskan bahwa sinyal rasa sakit dan rasa gatal dikirim melalui jalur yang berbeda, namun tetap saling berhubungan.
Menggaruk memang dapat meredakan rasa gatal seketika diikuti dengan timbulnya rasa sakit ringan. Namun, saat tubuh merespon sinyal rasa sakit tersebut, rasa gatal akan semakin parah.
Para peneliti menjelaskan bahwa memblokir pelepasan serotonin bukan cara yang baik untuk meredakan rasa gatal. Hal ini karena serotonin juga mempengaruhi suasana hati, proses metabolisme tulang, penuaan, pertumbuhan. Memblokir serotonin dikhawatirkan dapat berdampak ke seluruh tubuh.
Chen mengatakan bahwa kemungkinan yang dilakukan adalah mengganggu komunikasi antara sel saraf di sumsum tulang belakang yang memberikan sinyal rasa gatal dan hormon serotonin.
Salah satu cara ang dilakukan adalah dengan mengisolasi reseptor yang digunakan serotonin untuk mengaktifkan neuron GRPR. Neuron tersebut yang menyampaikan sinyal gatal dari kulit menuju otak. Saat dilakukan percobaan pada tikus, hasilnya diketahui bahwa rasa gatal berkurang.

Minuman Bersoda dan Penuan dini

Bagi anda yang gemar minum minuman bersoda, sebaiknya mulai sejak dini membatasi mengkonsumsi minuman tersebut. Hal ini karena kandungan berbagai zat tambahan yang ada di dalamnya dinilai tidak baik bagi kesehatan. Adapun kandungan yang dimaksud adalah zat pewarna, penambah rasa, zat pengawet, agen pembentuk busa, dan zat asam tambahan.

Minuman Bersoda dan Penuaan Dini

Minum sekaleng soda saja dalam sehari dinilai dapat meningkatkan risiko sindrom metabolik sebesar 48 persen. Sindrom metabolik adalah serangkaian faktor risiko diabetes dan penyakit jantung. Namun, kini efek negatif dari minuman bersoda tampaknya bertambah satu lagi. Ya, sebuah penelitian terbaru menunjukkan bahwa minuman bersoda bisa mempercepat penuaan.
Hasil penelitian menemukan bahwa orang yang mengkonsumsi dua kaleng cola sehari mempunyai perubahan DNA sel 4,6 tahun lebih tua.
Para aktivis menyalahkan minuman manis yang bisa berkontribusi terhadap kenaikan masalah diabetes tipe-2 dan obesitas, namun ini adalah yang pertama kali di mana penelitian mengaitkan antara minuman ringan dengan penuaan dini.
Para ilmuwan menganalisa ribuan sampel DNA untuk menemukan bahwa orang yang minum minuman bersoda secara rutin mempunyai telomere yang lebih pendek. Telomere merupakan struktur kecil yang melindungi DNA dari terjadinya kerusakan dan merupakan indikator kesehatan.
Semakin bertambahnya usia, telomere akan jadi lebih pendek dan lebih pendek. Hal ini akan menyebabkan DNA menjadi rusak dan meningkatkan kemungkinan penyakit-penyakit yang berhubungan dengan usia seperti Alzheimer, penyakit jantung, dan diabetes.
Mempelajari telomere, para ahli menemukan bahwa orang yang minum minuman bersoda secara rutin mempunyai telomere yang lebih pendek dibandingkan dengan mereka yang tidak mengkonsumsi minuman bersoda.
“Konsumsi soda bergula secara rutin bisa mempengaruhi perkembangan penyakit, tak hanya dengan berusaha mengontrol metabolisme tubuh dari gula, namun juga melalui percepatan penuaan sel dari jaringan”, ujar Profesore Elissa Epel dari University of California, San Francisco.
Profesol Epel juga mengingatkan adanya kemungkinan bahwa minum minuman bersoda juga terkait dengan pemendekan telomere pada anak-anak. Efek dari panjang telomere hampir serupa dengan merokok, tulis para peneliti dalam American Journal of Public health.

Selasa, 11 November 2014

Mengorok: Gejala Berbahaya!
781 views
Share on emailShare on print

Oleh: dr. Alvin Nursalim
Klikdokter.com - Janganlah Anda menganggap remeh mengorok, karena mengorok bisa jadi gejala dari kelainan yang lebih serius. Kelainan yang umum dihubungkan dengan mengorok adalahObstructive Sleep Apnea (OSA). Kelainan ini merupakan kelainan yang paling umum ditemui dan berhubungan dengan obstruksi saluran pernafasan bagian atas. Mari kita kenali kelainan OSA ini lebih lanjut.
Apakah Obstructive Sleep Apnea (OSA)?
OSA merupakan sebuah kelainan obstruktif jalan pernafasan bagian atas. Kelainan ini ditandai dengan berhentinya pernafasan secara berulang selama tidur. Periode henti nafas ini disebabkan karenapenyempitan saluran pernafasan sehingga aliran udara dapat berhenti. Hal ini bisa terjadi karena otot badan umumnya menjadi lebih rileks selama tidur, sehingga dinding sekitar tenggorokan dapat mengecil yang akhirnya menyebabkan OSA.
Pasien OSA jarang menyadari keluhan yang dialaminya, karena pasien sedang tertidur. Biasanya pihak yang menyadari adalah orang lain yang tidur bersama penderita OSA. Penderita OSA biasanya berhenti bernafas selama 20-40 detik. 
Apa gejala pasien dengan OSA?
  • Mengorok saat tidur
Salah satu keluhan yang dialami pasien OSA adalah mengorok. Pasien mengorok yang diakibatkan sumbatan jalan nafas sehingga aliran udara yang masuk menyebabkan getaran suara.
  • Ngantuk siang hari
Selain itu, pasien juga mengeluh ngantuk saat siang hari, terlepas dari durasi tidur yang sudah cukup. Hal ini diakibatkan karena periode tidur yang terputus-putus akibat periode apnea. Kandungan oksigen darah juga dapat menurun akibat sumbatan jalan nafas yang dialami oleh penderita OSA.
  • Gejala lainnya seperti: cemas, depresi, dan peningkatan tekanan darah.
Apa bahaya dari OSA?
Ternyata OSA berhubungan dengan berbagai penyakit yang mengancam nyawa. Salah satu penyakit yang dihubungkan dengan OSA adalah serangan jantung. Selain itu, penderita OSA juga memiliki peningkatan risiko berbagai penyakit lain seperti stroke dan demensia.
Apakah pengobatannya?
Anda tidak perlu khawatir, karena ada pengobatan untuk penderita OSA. Penderita OSA dapat mengalami pemeriksaan yang lengkap di laboratorium tidur. Dalam laboratorium ini seorang penderita OSA akan dipantau derajat keparahan OSA yang dialami. 
Selain itu, perawatan lain yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan Continuous Positive Airway Pressure (CPAP), alat ini meniupkan tekanan positif ke dalam saluran pernapasan pasien sehingga saluran pernapasan tetap terbuka.
Terapi OSA ditujukan untuk mengatasi henti napas sehingga tetap menjaga kualitas hidup pasien. Selain itu, dengan terapi dini maka berbagai komplikasi OSA juga dapat dihindari. Bagi Anda yang ingin mengetahui lebih jauh mengenai topik ini, silakan ajukan pertanyaan Anda di fitur Tanya Dokter Klikdokter.com di laman website kami.[](AN)